Sesat Pikir Koalisi


Sistem  pemerintahan Indonesia adalah presidensiil, bukan parlementer. “Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat” (Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 7C). Sebaliknya, DPR tidak bisa menjatuhkan presiden, karena presiden dipilih langsung oleh rakyat lewat pemilihan langsung presiden dan wakil presiden (pilres).

Untuk dapat mengajukan calon presiden dan wakil presiden satu atau beberapa partai politik harus memiliki 20 persen kursi di DPR atau 25 suara sah dalam pemilu legislatif.

Sejauh ini, berdasarkan perolehan suara hasil perhitungan cepat, tidak satu pun partai politik dapat mengajukan sendiri calon presiden-wakil presiden. PDI-Perjuangan, yang meraup suara terbanyak sekalipun, harus merangkul partai lain agar bisa mencalonkan jagonya yang digadang-gadang, yakni Joko Widodo. Koalisikah itu namanya? Bukan. Itu sebatas kerja sama untuk mengusung calon presiden dan wakil presiden agar memperoleh tiket untuk berlaga dalam pilpres..

Koalisi hanya dikenal dalam sistem pemerintahan parlementer. Pemerintahan yang berkuasa yang dipimpin pendana menteri hanya dapat membentuk dan menjalankan pemerintahan jika didukung oleh partai atau partai-partai yang memiliki kursi mayoritas di DPR. Jika ada partai anggota koalisi yang menarik diri sehingga kursi partai koalisi tidak lagi mayoritas, maka pemerintahan bakal jatuh.

Berkoalisi tidak gratisan. Partai yang tidak lagi mendukung pemerintah otomatis akan menarik wakilnya di kabinet.

Praktik di Indonesia agak ribet. Meskipun sistem pemerintahan yang dianut bukan parlementer tetapi selalu terjadi praktik “koalisi”.

Sekarang pun, belum ada apa-apa, belum ada calon presiden sekalipun, perbincangan tentang koalisi sangat ramai. Ada koalisi poros tengah, koalisi Indonesia raya, dan beragam manuver lainnya. “Koalisi” sekarang ini tampaknya baru sebatas untuk mengusung calon presiden dan wakil presiden.

Katakanlah ada tiga kelompok “koalisi” yang bakal mengusung pasangan calon presiden-wakil presiden. Masing-masing kubu memiliki visi-misi, ideologi, dan program yang berbeda. Satu di antara “koalisi” memenangi pemilihan presiden. Hampir bisa dipastikan, yang memenagi pertarungan pilpres tidak memperoleh dukungan mayoritas di DPR. Dalam logika yang berlaku sekarang, presiden terpilih harus merangkul beberapa partai lagi agar memiliki dukungan mayoritas di DPR. Partai-partai yang mendukung sejak awal (sebelum pilpres) dan yang belakangan (setelah pilpres) dapat posisi menteri. Begitulah praktik “koalisi” di Indonesia.

Logika politik di sini, pemerintahan akan lebih kuat jika koalisi semakin banyak dukungan kursi di DPR. Pandangan itu tercermin dari gagasan koalisi Indonesia Raya. Alasannya, Indonesia sangat heterogen: ada kelompok nasionalis, agamis, kelompok tengah. Jadi semua harus dirangkul untuk menghadirkan pemerintahan yang kuat.

Di situlah letak sesat pikirnya. Kurang apa lagi pengalaman pemerintahan sekarang yang didukung oleh berbagai spektrum kekuatan politik. Kurang kuat bagaimana lagi pemerintahan presiden SBY yang didukung enam partai dengan kekuatan 75,2 persen kursi di DPR.

oposisi

“Koalisi” gratisan ya namanya bukan koalisi. Partai-partai yang mbalelo tetap saja tidak menarik menteri-menterinya dari kabinet. Presiden tidak berani memecat menteri-menteri yang berasal dari partai yang mbalelo.

Sejauh presiden lurus dan amanah dalam menjalankan agenda rakyat, presiden tidak usah takut menghadapi DPR yang tidak membela rakyat. Kalau DPR berani memblokade program pemerintah, misalnya memboikot pembahasan APBN dan tak kunjung menyetujuinya, presiden bisa menggunakan APBN tahun sebelumnya. Rakyat akan marah dan menuding DPR anti rakyat. Rasanya DPR tidak akan berani melawan konstituennya sendiri. Sama saja dengan mereka bunuh diri.

Ke depan, rasanya perlu dipikirkan format baru. Dalam 10 tahun ke depan, memaksakan sedikit partai tampaknya kurang realistik di tengah masyarakat yang heterogen. Mungkin lebih baik kita memiliki presiden dengan mandat yang cukup besar. Lalu ada perdana menteri yang menjalankan pemerintahan sehari-hari dengan koalisi di pemerintahan dan oposisi. Koalisi yang tidak gratisan. Barulah istilah koalisi hadir tanpa tanda petik.

Joko’s Former Rival Urges Presidential Bid


[By Jakarta Globe on 11:43 am August 3, 2013]

A former competitor in the 2012 Jakarta gubernatorial race has expressed his support for Governor Joko Widodo to run for president in the 2014 election, emphasizing that next year would be the right time for him to take on the challenge.

“Don’t wait for 2019, because that would be too late. Now is the right time to go forward,” economic expert Faisal Basri said in Jakarta on Thursday.

Faisal said his status as a former competitor to Joko in the gubernatorial election did not prevent him from recognizing that Joko was the best choice to lead Indonesia from among the current crop of presidential hopefuls.

According to Faisal, the limited supply of human resources to support Joko’s programs for the capital city was among one of the biggest challenges faced by the administration. By contrast, said Faisal, upon being elected president, Joko would have the opportunity to assemble a cabinet of 30 individuals whom he believed could best assist him to improve the nation.

Echoing Faisal’s opinions is Ahmad Syafii Ma’arif, the former leader of Muhammadiyah, the second-largest Islamic organization in the country.

After a closed meeting with the governor on Thursday, Syafii said he had expressed his support and admiration of the governor’s current leadership of the country’s capital.

“I told him [Joko], if you can be successful in Jakarta, then lead this nation,” he said as quoted by Tempo.co.

According to Syafii, Joko fulfills all prerequisites to run as Indonesia’s top leader in the upcoming election. However, he maintained that it would be best if the governor proved himself through his work in Jakarta before making the transition to national politics.

Joko has continued to top various polls related to the presidential election, surging ahead of many big names including former Army general Prabowo Subianto and even Megawati Sukarnoputri, the chairwoman of the Indonesia Democratic Party of Struggle (PDI-P), of which Joko is a member.

However, the governor has remained reticent, refusing to discuss the presidency, let alone make claims that he is ready for the “big time.”

In response to the recent polls, Deputy Governor Basuki Tjahaja Purnama said he fully supported of the idea of Joko running for president.

“He deserves it. He is a decision maker and he has no conflicting interests,” Basuki said on Friday as quoted by Tempo.co.

“Today the public no longer believes in leadership. Joko is a trustworthy man in everything that he does. Because once a distrusted person leads, how can the public be managed?”

Source: http://www.thejakartaglobe.com/news/jokos-former-rival-urges-presidential-bid/

Blog di WordPress.com.

Atas ↑