Sesat Pikir Kebijakan Makroekonomi (I)


Akhir pekan lalu nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terendah baru dalam empat tahun terakhir, Rp 12.245 per dollar AS. Rekor terendah sebelumnya, Rp 12.400 per dollar AS,  terjadi pada 22-24 November 2008.

rp

Resep menaikkan BI rate tampaknya sudah kian tumpul. Sejak Agus Martowardojo menjabat Gubernur Bank Indonesia, BI Rate sudah naik lima kali dengan total kenaikan 175 basis poin. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin menjadi 7,50 persen diputuskan pada 12 November 2013.

Berbeda dengan kenaikan sebelumnya yang bertujuan untuk merespon peningkatan laju inflasi sebagai akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, kenaikan terakhir bertujuan untuk meredam kemerosotan nilai tukar rupiah. BI beralasan, dengan menaikkan BI rate, defisit akun semasa (current account) bisa ditekan sehingga kemerosotan nilai tukar rupiah bisa diredam.

birate

Di mata BI dan pemerintah, biang keladi kemerosotan rupiah adalah pengumuman Bank Sentral AS (The Fed) yang berencana memotong dana stimulus 85 miliar dollar AS setiap bulan. Paragraf pembuka isi pidato Gubernur BI pada acara Bankers Dinner 14 November 2013 menyuratkan hal itu:

“Secara pribadi kami sungguh merasakan tantangan ekonomi yang tidak ringan di tahun 2013 ini. Kami bergabung dengan Bank Indonesia pada 24 Mei 2013, tepat dua hari setelah Chairman dari Federal Reserve memberikan sinyalemen akan mengurangi stimulus moneter (tapeting). Sinyalemen yang sangat singkat, namun pengaruhnya mendunia. Sejak saat itu, hari demi hari hingga akhir Agustus lalu, ekonomi kita ditandai dengan derasnya aliran keluar modal portofolio asing, yang kemudian menekan nilai tukar rupiah dengan cukup tajam.” (huruf tebal oleh penulis.)

Menteri keuangan menyampaikan hal senada, bahkan memperkirakan rupiah akan terus melemah hingga awal tahun 2014:

“Indonesia’s rupiah and bond yields will return to levels seen in 2009 after the Federal Reserve cuts stimulus that has buoyed emerging-market assets, Finance Minister Chatib Basri said.” (Source: Bloomberg.com, Indonesia’s Basri Sees Rupiah Back to 2009 Levels After QE Taper http://bloom.bg/1cHKkKO, November 8, 2013.)

Bukankah rupiah melemah sudah jauh hari, sejak September 2011, dan sejak itu pula cadangan devisa mulai mengalami kecenderungan menurun?

reserves

Pernyataan Gubernur BI  bahwa modal portofolio asing mengalir deras keluar sejak bulan Mei (triwulan II-2013) terbukti bertentangan dengan data. Tengoklah neraca pembayaran. Sejak 2011 pos portfolio investment neto selalu positif.

Image

Data lebih rinci menunjukkan arus deras keluar modal portofolio justru terjadi pada triwulan III-2011. Keadaan tahun ini, khususnya triwulan II-2013, jauh lebih baik. Sekalipun mengalami penurunan pada triwulan III-2013, angka netonya masih positif, berarti arus modal portofolio yang masuk lebih besar daripada yang keluar.

Bahkan, jika ditambah dengan investasi asing langsung  (foreign direct investment), pada tahun 2013 jumlahnya kemungkinan besar bakal melampaui tahun 2012.

foreign_investment

Bagian terbesar investasi portofolio adalah dalam bentuk surat utang pemerintah dan saham. Porsi pemilikan asing dalam surat utang pemerintah sebesar 30 persen. Asing lebih banyak (42 persen) memegang surat utang pemerintah bertenor di atas 10 tahun, sedangkan yang bertenor kurang dari 1 tahun hanya 4 persen.

Image

Mengingat penilaian semua agensi pemeringkat terhadap Indonesia belum ada perubahan, tetap dengan outlook stabil, maka diperkirakan tidak akan terjadi penjualan besar-besaran surat utang pemerintah oleh investor asing.

Image

Perkembangan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia semakin  memperlemah sinyalemen Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. Terbukti bahwa indeks saham tidak anjlok seperti yang terjadi pada tahun 2008-2009 tatkala rupiah dan indeks saham sama-sama anjlok dengan persentase yang hampir sama besar. Sampai akhir minggu lalu indeks saham hanya turun 2,81 persen (year to date) dan 1,39 persen (year on year).

ihsg

Tak pelak lagi, tapering bukanlah penyebab utama kemerosotan rupiah. Pemerintah dan BI tampaknya terjangkit pepatah: “Gajah di pelupuk mata tak kelihatan, kuman di seberang lautan tampak nyata.” Janganlah kambing-hitamkan gejolak perekonomian dunia dan rencana The Fed memotong stimulus.

Masalah mendasar ada di dalam diri kita sendiri, sebagaimana diutarakan oleh Gubernur BI pada acara Bankers Dinner: “… struktur produksi yang terbentuk dalam satu dekade terakhir lambat laun terasa semakin ketinggalan jaman (obsolete).” Itulah wujud senyata-nyatanya dari pertumbuhan tidak berkualitas. Pola pertumbuhan ekonomi semakin jomplang. Sektor tradable (pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur) tumbuh loyo, hanya sekitar separuh dari pertumbuhan sektor nontradable (sektor jasa). Padahal sektor tradable merupakan ujung tombak ekspor.

gdp

Jika pertumbuhan sektor tradable tetap loyo, ekspor barang melemah dan penetrasi barang-barang impor kian besar di pasar domestik. Itulah yang terjadi sebagaimana terlihat dari perkembangan akun semasa (current account).

Ternyata defisit akun semasa sudah terjadi sejak triwulan IV-2011, hampir bersamaan dengan awal kemerosotan rupiah dan cadangan devisa.

Pos jasa (services, income, dan current transfer) relative stabil. Dengan demikian, pemburukan akun semasa disebabkan oleh pos barang. Yang paling mengalami pemburukan di pos barang adalah ekspor-impor nonmigas. Surplus nonmigas turun drastis dari 35,4 miliar dollar AS pada tahun 2011 menjadi 13,8 miliar dollar AS pada tahun 2012 atau anjlok sebesar 21,6 miliar dollar AS. Penurunan berlanjut pada tahun 2013, terlihat dari pertumbuhan tahunan setiap triwulan.

Penyebab utama kedua adalah pos minyak. Defisit minyak (minyak mentah dan BBM) mengakselerasi sejak tahun 2010. Kenaikan harga BBM bersubsidi pada bulan Juli 2013 tampaknya belum menolong banyak, sebagaimana tampak pada defisit minyak yang lebih tinggi pada triwulan III-2013 dbandingkan dengan triwulan II-2013, apalagi bila dibandingkan dengan triwulan III-2012.

Penyebab utama ketiga adalah penurunan surplus gas. Penurunan ini pun berlangsung terus hingga sekarang.

ca

Kualitas Pertumbuhan dan Kemerosotan Rupiah


Perekonomian bisa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sektor tradable dan sektor non-tradable. Sektor tradable merupakan sektor penghasil barang, terdiri dari sektor pertanian, sektor pertambangan & penggalian, dan sektor industri manufaktur. Sisanya masuk ke sektor non-tradable yang tak lain adalah sektor jasa.

Sektor jasa disebut sektor non-tradable karena pada umumnya tidak langsung menghadapi persaingan dengan luar negeri (non-traded). Listrik, misalnya, tak memiliki pesaing luar negeri di pasar domestik. Demikian juga pelayaran dalam negeri, bandara, pelabuhan, dan air bersih. Pun rumah sakit, kebun binatang, dan restoran. Kalau asing hendak masuk ke sektor jasa-jasa tersebut, mereka harus mendirikan perusahaan di Indonesia.

Berbeda dengan sektor tradable yang harus berjibaku menghadapi persaingan langsung di pasar dalam negeri dengan barang-barang impor maupun di pasar luar negeri dengan barang-barang dari seluruh dunia.

Bagi negara berkembang dengan pasar yang relatif besar seperti Indonesia, sektor tradable masih memiliki ruang gerak untuk terus tumbuh melebihi sektor non-tradable. Karena, struktur perekonomian yang sehat akan terbentuk jika sektor tradable mampu tumbuh hingga ke titik optimumnya, baru setelah itu sektor non-tradable berangsur naik porsinya hingga melebihi sektor tradable. Bisa dikatakan secara umum sektor non-tradable merupakan derived demand dari sektor tadable.

Sejak tahun 2000 pertumbuhan sektor tradable selalu lebih lambat ketimbang sektor non-tradable dengan kecenderungan kesenjangannya semakin menganga.

Image

Sebelum krisis pertumbuhan sektor tradable beberapa kali lebih tinggi dari sektor non-tradable, yaitu tahun 1984, 1991 dan 1996. Data sebelum tahun 1984 belum sempat penulis kumpulkan, namun diperkirakan lebih kerap terjadi. Pada masa krisis tahun 1998 dan 1999 pertumbuhan sektor tradable masih lebih baik ketimbang sektor non-tradable. Tahun 1998 pertumbuhan sektor tradable minus 6,8 persen sedangkan sektor non-tradable minus 19,2 persen. Tahun 1999 masing-masing positif 2,3 persen dan negatif 0,9 persen.

Pertumbuhan sektor non-tradable yang semakin jauh meninggalkan sektor tradable berdampak pada penurunan relatif kapasitas perekonomian dalam mengekspor, sehingga berdampak ke transaksi perdagangan di neraca pembayaran. Profil pertumbuhan sektoral bisa dilihat pada peraga berikut.

sectoral_growth

Keadaan ini diperparah dengan peningkatan pesat impor bahan bakar minyak (BBM) dan sejak 2013 transaksi perdagangan minyak mentah pun sudah mengalami defisit.

defisit_oil

Selama puluhan tahun kapasitas produksi kilang minyak tak bertambah. Kilang yang ada sudah amat tua sehingga kerap mengalami kerusakan. Sebaliknya, konsumsi BBM meningkat pesat. Sehingga, tak terhindarkan impor BBM pun melambung.

konsumsi_bbm

Lebih jauh, kita kehilangan kesempatan menambah produksi kondensat sebagai output sampingan kilang. Padahal, konsensat merupakan bahan baku utama dalam produksi industri petrokimia. Sedangkan industri petrokimia merupakan salah satu pilar utama industri hulu yang memasok berbagai jenis industri manufaktur. Tak heran jika jika mengalami defisit perdagangan untuk produk industri manufaktur sejak tahun 2008.

Produksi pertanian pangan juga terseok-seok, sehingga sejak tahun 2007 kita mengalami defisit perdagangan pangan pula.

Dengan demikian kita telah mengalami triple deficits: migas, manufaktur, dan pangan.

Hingga tahun 2012 defisit ini ditutup oleh ekspor padat sumber daya alam yang belum diolah dan setengah diolah. namun, sejak tahun 2012 tak tertahankan lagi, sehingga mulailah terjadi defisit perdagangan total.

Kondisi yang sudah lampu kuning ini terus menekan akun semasa (current account) sejak tahun 2010. Pada tahun itu surplus akun semasa anjok menjadi 5,1 miliar dollar AS, tak sampai separuh dari surplus tahun sebelumnya.

Lampu kuning kian berbinar, tetapi masih belum ada tindakan nyata untuk memperbaikinya. Mungkin karena neraca pembayaran masih surplus. Penyelamatnya adalah arus modal asing yang masuk. Berarti perekonomian Indonesia semakin rentan terhadap perubahan faktor-faktor eksternal.

Serangan pertama dari luar adalah rencana Bank Sentral AS (The Fed) mengurangi pembelian surat berharga. Langsung saja investasi portofolio merosot, indeks harga saham turun tajam.

Investasi asing langsung memang masih menunjukkan peningkatan. Sayangnya, nilai repatriasi laba perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia juga meningkat pesat, sehingga arus neto investasi asing langsung setelah dikurangi repatriasi laba hanya sekitar 1,5 miliar dollar AS pada tahun 2011 dan 2012, lalu turun drastis hanya 232 juta dollar AS.

Selain itu, porsi investasi asing langsung yang berorientasi ekspor makin sedikit. Kondisi ini berbeda dengan di masa Orde Baru yang mana investasi asing langsung banyak yang berorientasi ekspor, sehingga investasi asing langsung menambah kapasitas ekspor.

net_fdi

 Dari gambaran di atas tampak pemburukan yang terjadi belakangan ini sebetulnya tak muncul seketika. Ada proses panjang yang mendahuluinya, sehingga bisa dikatakan persoalan yang kita hadapi sekarang bersifat struktural. Kaitannya cukup banyak. Mulai dari struktur perekonomian yang kurang sehat, ketiadaan kebijakan industrial yang lugas dan dilaksanakan secara konsisten, sektor pertanian yang terabaikan, pelaksanaan kebijakan energi nasional yang tidak konsisten, serta keterkaitan satu sama lain.

Kemerosotan nilai rupiah dan kinerja pasar saham memang banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Namun, jika daya tahan perekonomian cukup tangguh sebagai akibat dari strategi dan kebijakan dalam negeri yang solid, niscaya kemerosotan bisa ditahan dan bisa cepat kembali ke keadaan semula.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑