Lanjut ke konten

Keganjilan Perekonomian Indonesia


Hampir semua penjelasan tentang kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia dikaitkan dengan kondisi perekonomian dunia, tak terkecuali penjelasan pemerintah. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia meleset dari target, faktor eksternal yang dijadikan kambing hitam: perang dagang AS-China, kebijakan The Fed, harga minyak dunia, ketegangan di Timur Tengah, pertumbuhan ekonomi China yang melemah, harga komoditi dunia, proses pemakzulan Presiden Donald Trump, dan masih banyak lagi. Terakhir, Menteri Keuangan mengatakan sedang menakar dampak virus Corona dari China terhadap perekonomian.

Sudah barang tentu faktor eksternal turut memengaruhi kita. Namun, jangan sampai kelemahan kita sendiri dikesampingkan. Ibarat pepatah: gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang samudera tampak.

Observasi sederhana menunjukkan pergerakan ekonomi Indonesia kian kerap berlawanan arah dengan pergerakan ekonomi dunia. Pada tahun 2013-2014 misalnya, pertumbuhan ekonomi dunia mengalami peningkatan, sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot. Sebaliknya, pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi dunia turun, sedangkan pertumbuhan ekonomi dunia naik. Hal yang sama terjadi lagi pada tahun 2018. Untuk tahun 2020, prediksi IMF untuk pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,3 persen, naik cukup signifikan dari 2,9 persen tahun 2019. Prediksi saya untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini turun menjadi 4,9 persen dibandingkan tahun lalu 5,0 persen.

Perbedaan pola lainnya adalah, ketika pertumbuhan ekonomi dunia merosot tajam, pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah lebih landai. Yang paling kentara terjadi tahun 2009 ketika terjadi krisis finansial global. Kala itu perekonomian dunia mengalami resesi dengan pertumbuhan -0,1 persen. Ada pun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa melenggang dengan pertumbuhan positif 4,6 persen. Hanya segelintir negara yang tahun itu pertumbuhan ekonominya positif, antara lain China dan India.

Sebaliknya, ketika perekonomian dunia memasuki fase pemulihan atau ekspansi, kecepatan ekspansi Indonesia lebih lambat. Jika pola itu berlanjut tahun ini dan tahun depan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan meningkat tahun depan.

Faktor apa saja yang menyebabkan pola di atas? Pertama, faktor domestik jauh lebih menentukan ketimbang faktor eksternal. Kedua, interaksi perekonomian Indonesia dengan perekonomian global melemah. Hal ini tercermin dari degree of openness Indonesia yang turun sejak krisis 1998. Indonesia tampaknya semakin tersisih dalam kancah persaingan global.

Hampir semua negara semakin terbuka perekonomiannya, tak peduli negara itu kecil atau besar berdasarkan jumlah penduduknya, apakah negara itu kapitalis atau komunis, dan tak peduli di benua mana negara itu berada.

Degree of openness Indonesia mengalami penurunan konsisten sejak krisis 1998 hingga sekarang.

[Diperbarui pada 23 Januari 2020, pk. 03:37]

faisal basri Lihat Semua

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development.

His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003).

He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement.

Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.

2 tanggapan untuk “Keganjilan Perekonomian Indonesia Tinggalkan komentar

  1. Resesi 2020 yg sempet beberapa minggu yg lalu rame diperbincangkan di bnyk media, kira2 beneran bakal kejadian nggak pak? Faktor potensialnya apa? Yg kena/terdampak siapa aja? Pelaku UMKM harus siagakah? Wabil khusus pemerintah kudu ngapain??

    • Kalau di Indonesia kemungkinan terjadi resesi masih kecil, kecuali peristiwa Jiwasraya dkk merembet ke sektor keuangan lainnya. Ada baiknya kita perkokoh fondasi agar tidak terjadi. Pilihan kebijakan masih tersedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: