Di Tempo, Edisi 4-10 November 2013, halaman 70-71 (http://wp.me/p1CsPE-DW), saya menulis kolom berjudul Sesat Pikir KEK dan MP3EI. Praktis tak satu pun  kawasan ekonomi khusus (KEK) berjalan mulus. Di tulisan itu dikemukakan landasan pikir KEK yang keliru.

Contoh kecil adalah kasus Batam. Kurang bebas apa Batam. Kebebasan itu ternyata menghasilkan sosok Batam yang bertolak belakang dengan tujuan semula, yakni menjadikan Batam sebagai kawasan industry modern.

Bukannya menjadi pusat industri, melainkan kota ruko, kota perdagangan. Bukannya ekspor yang tumbuh lebih kencang, melainkan impor. Pertumbuhan sektor industri pengolahan hampir selalu lebih rendah ketimbang pertumbuhan PDRB. Yang berlari kencang adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran.

Masih merasa kurang dengan KEK, Batam menuntut kawasan bebas. Ternyata tak banyak perubahan ke arah yang lebih membanggakan.

Yang dinikmati Batam adalah harga rokok murah, hanya sekitar separuh dari harga rokok di daerah lain. Karena, rokok yang beredar di Batam tidak perlu bayar cukai. Minuman keras juga begitu, bebas.

rokok

Rokok di gambar itu  tak ada label cukainya. Yang ada tulisan: KHUSUS KAWASAN BEBAS.