“Menurut Darmin Nasution, kalau setelah kejepit baru mengambil tindakan, kambing pun tahu.” (Begini Guyonan Darmin Nasution Membandingkan Kerja Pejabat RI dengan Kambing – Jaring News http://jaringnews.com/ekonomi/umum/55923/begini-guyonan-darmin-nasution-membandingkan-kerja-pejabat-ri-dengan-kambing via @jaringnews)

Meski dengan nada bergurau, sentilan mantan Gubernur Bank Indonesia ini sangat mengena.

Sentilan yang tak kalah tajam disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia pengganti Darmin Nasution: “… struktur produksi yang terbentuk dalam satu dekade terakhir lambat laun terasa semakin ketinggalan zaman (obsolete).” (Paragraf pembuka isi pidato Gubernur Bank Indonesia pada acara “Governor’s Address & Annual Bankers’ Dinner 2013,” Jakarta, 14 November 2013).

Bank Indonesia dan pemerintah tidak boleh lagi sekedar sebagai pemadam kebakaran, setelah api menjilat ke mana-mana baru semburkan air untuk memadamkan. Ongkos bertindak model begini sangat mahal dan pada gilirannya memperlemah fondasi perekonomian. Cara bertindak seperti ini mirip dengan menenggak panadol, sekedar meredam pusing tetapi tidak mengobati akar penyakit.

Defisit akun lancar (current account) merupakan akibat dari struktur ekonomi yang rapuh. Lebih rapuh lagi tatkala transaksi perdagangan pun sudah defisit seperti sekarang ini, tepatnya sejak 2012.

Jika ditelusuri lebih mendalam, ke struktur defisit akun lancar dan defisit transaksi perdagangan, kita menemukan akar persoalan adalah pada industrialisasi yang centang perentang, yang menyebabkan struktur industry keropos, bolong di tengah. Industri yang maju adalah yang bersosok tukang jahit dan berorientasi pasar dalam negeri. Sebagian besar bahan baku dimpor dan sebagian besar produksinya untuk pasar dalam negeri. Jadi, industrialisasi tidak meningkatkan kapasitas ekspor.

Maka, tak ayal, transaksi perdagangan dan akun lancar (current account) semakin mengalami tekanan berat, yang pada gilirannya memperlemah nilai tukar rupiah.

Jangankan bicara penguatan struktur industri. Kenyataannya  peranan sektor industri manufaktur dalam produk domestik bruto (PDB) saja turun terus.

mfg