Ketimpangan Kian Memburuk


Jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan naik 480.000 dari 28,07 juta pada Maret 2013 menjadi 28,55 juta pada September 2013. Pensentase penduduk miskin terhadap jumlah penduduk pun naik dari 11,37 (Maret) menjadi 11,47 persen (September). Apalagi penyebab kenaikan itu kalau bukan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada akhir Juni 2013.

poor

Sejak tahun 2006 jumlah dan persentase penduduk miskin mengalami penurunan secara konsisten, walaupun kecepatan penurunannya melambat, juga apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Penurunan jumlah orang miskin sejalan dengan tambahan penciptaan lapangan kerja sehingga menurunkan tingkat pengangguran. Ada yang agak mengganggu pada peraga di atas. Pada kurun waktu 2001-2005 tingkat pengangguran naik justru ketika pertumbuhan ekonomi meningkat. Sebaliknya, pada periode 2007-2009 dan 2011-2013, tingkat pengangguran justru terus turun padahal pertumbuhan ekonomi melambat. Bahkan, pada tahun 2009 ketika krisis keuangan global membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot cukup tajam, tingkat pengangguran tetap turun lumayan. Hal ini bias terjadi karena banyak pekerja di Indonesia terlalu miskin untuk menganggur (too poor to be unemployed). Kalau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) hari ini, keesokan harinya harus mendapatkan pekerjaan baru, apa pun pekerjaan itu: entah memulung, mengojek, mengobyek, menjadi joki 3 in 1, dan sebagainya. Jadi, rendahnya tingkat pengangguran tidak mencerminkan kualitas kerja, tingkat kesejahteraan, atau kualitas pertumbuhan.

Mungkin data ketimpangan pendapatan yang kian melebar bisa menjelaskan fenomena perekonomian Indonesia pasca krisis 1998. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi memang bias menurunkan jumlah orang miskin, yang mencerminkan peningkatan kesejahteraan rata-rata rakyat Indonesia. Namun, lapisan kelas atas tumbuh jauh lebih cepat ketimbang kelas pendapatan bawah yang tumbuh lamban, sehingga menghasilkan jurang kaya-miskin yang semakin melebar. .

Indeks Gini mengonfirmasikan kecenderungan itu. Selama enam tahun terakhir Indeks Gini mengalami peningkatan dan sejak tahun 2011 menembus angka 0,4. Tahun 2013 meningkat lagi walaupun tipis menjadi 0,413. Kondisi ketimpangan dipandang baik jika Indeks Gini di bawah 0,4, buruk jika di atas 0,5 dan sedang antara 0,4 – 0,5.

gini

Data distribusi pendapatan memperkuat konstatasi dia atas. Sejak tahun 2010 porsi kelompok 20 persen terkaya naik pesat hingga mencapai 49 persen. Sementara itu, kelompok 40 persen menengah dan 40 persen termiskin terus turun.
dist

Kondisi ketimpangan yang sebenarnya tentu saja lebih buruk, mengingat Indeks Gini dan distribusi pendapatan di Indonesia dihitung berdasarkan pengeluaran, bukan pendapatan.

Ketimpangan yang parah antara lain bisa juga dilihat dari distribusi pemilikan tanah. Berdasarkan perhitungan Hermanto Siregar (Desember 2013), Indeks Gini untuk pemilikan tanah secara nasional mencapai 0,72. Hal serupa terlihat pula dalam pemilikan deposito.

Saatnya pemilu nanti menghasilkan kontrak politik baru yang mengedepankan keadilan.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s