Sesat Pikir Kebijakan Mobil Nasional


Mungkin tidak ada kebijakan ekonomi yang bisa menandingi antusiasme pemerintah mendorong produksi dan penjualan mobil. Betapa tidak, Tanpa dorongan pemerintah saja, penjualan mobil naik 3,5 (tiga setengah) kali lipat hanya dalam enam tahun (2006-2012). Pada kurun waktu yang sama, produksi mobil naik lebih cepat lagi, yakni 4 (empat) kali lipat.

Di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, pertumbuhan penjualan dan produksi mobil tahun 2013 ini diperkirakan masih bisa naik sekitar 10 persen.

Image

Betapa pesat produksi mobil di Indonesia tampak dari pertumbuhan yang sangat jauh lebih tinggi dari seluruh negara Asean. Compound annual growth rate (CAGR) produksi mobil di Indonesia selama periode 2007-2011 mencapai 20 persen. Thailand sebagai produsen otomotif terbesar di Asean saja hanya tumbuh 3 persen, sedangkan Malaysia yang memiliki mobil kebanggaan nasionalnya, Proton, tumbuh cuma 5 persen. Sementara itu Vietnam yang sedang menggeliat hanya mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 8 persen. Pertumbuhan rata-rata Asean hanya 8 persen.

Image

Berbeda dengan Thailand yang produksi mobilnya jauh lebih tinggi dari penjualan, di Indonesia penjualan mobil lebih besar dari produksinya. Pada tahun 2012 produksi mobil Thailand sebesar 2,4 juta unit sedangkan penjualan mobil 1,4 juta unik. Selisihnya diekspor. Ada pun Indonesia, pada tahun yang sama memproduksi mobil sebanyak 1.065.557 unit dan penjualan sebanyak 1.116.224 unit. Dengan demikian bisa dikatakan kebijakan industri otomotif Thailand berhasil menggenjot produksi yang menghasilkan keseimbangan antara jumlah mobil yang diekspor dan dijual di dalam negeri, sedangkan Indonesia sejauh ini hanya jago kandang.

Jangan ditanya berapa mobil yang diekspor. Sangat jauh lebih kecil nilainya dibandingkan devisa yang disedot oleh industri ini. Pada tahun 2012 impor kendaraan bermotor dan komponennya mencapai 9,7 miliar dollar AS. Dengan kurs Rp 9.380 per dollar AS pada tahun 2012, berarti nilai impor mobil dan komponennya sebesar Rp 91 triliun.

Lonjakan penjualan mobil inilah yang menggelembungkan impor bahan bakar minyak (BBM) sehingga sejak tahun 2011 BBM menjadi komoditas impor terbesar. Tahun 2012 impor BBM sudah mencapai 28,7 miliar dollar AS atau Rp 269,2 triliun.

Pemerintah masih memandang perlu menggenjot lebih jauh Industri otomotif yang sudah tumbuh “gemilang”. Luar biasa. Padahal industri ini sangat boros devisa. Tak heran kalau industri ini dan produk impor terkait lainnya memberikan sumbangan sangat besar terhadap pemburukan neraca perdagangan, akun semasa, dan neraca pembayaran, serta pelemahan nilai rupiah.

Pemerintah sebetulnya bisa memajukan industri otomotif dengan cara yang lebih cerdas dan sekaligus tidak menciptakan penyakit di tempat lain. Caranya sederhana, tirulah kebijakan otomotif yang dibuat oleh pemerintah Thailand.

Jangan buat kebijakan yang memajukan industri tertentu tetapi mengorbankan banyak bidang yang lain dan menimbulkan beragam masalah baru yang semakin memberatkan perekonomian.

2 thoughts on “Sesat Pikir Kebijakan Mobil Nasional

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: