Pertumbuhan ekonomi nyata-nyata melambat selama empat triwulan berturut-turut dan pertama kali di bawah 6 persen dalam 10 triwulan terakhir. Hampir bisa dipastikan pelemahan akan berlanjut sampai akhir tahun sehingga pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan paling tinggi hanya 5,8 persen.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada akhir Agustus lalu memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2013 cuma 5,25 persen. Sementara itu, majalah The Economist edisi terbaru kembali menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dari 5,8 persen menjadi 5,1 persen.

Walaupun tampaknya tak akan sesuram perkiraan IMF dan The Economist, akselerasi perlambatan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun, yang tinggal tiga setengah bulan, amat sulit dihadang. Namun, rasa nyeri bisa dikurangi seandainya pemerintah menawarkan obat penawar yang langsung menyentuh akar masalah. Sejauh ini pemerintah baru sebatas menawarkan vitamin yang niscaya tidak mengurangi rasa nyeri yang kian merambah ke sekujur perekonomian.

Tak satu pun dari empat paket kebijakan pada 23 Agustus lalu bisa menghasilkan dampak segera yang berarti dan patut, termasuk paket pertama yang bertujuan menekan defisit akun semasa (current account).

Yang paling menjadi andalan pemerintah untuk meringankan tekanan defisit akun semasa adalah kewajiban meningkatkan kandungan biodiesel dalam solar menjadi 10 persen. Dengan kebijakan ini, pemerintah menargetkan penurunan impor bahan bakar minyak (BBM) senilai 2 miliar dollar AS.

Seandainya target itu tercapai, defisit akun semasa tidak akan serta merta berkurang sebesar pengurangan impor BBM mengingat biodiesel pencampur solar berasal dari minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang  dialokasikan untuk ekspor. Dengan demikian, potensi ekspor CPO akan turun proporsional dengan penurunan impor BBM sehingga efek neto terhadap perbaikan akun semasa sangat tidak berarti. Lebih parah lagi jika memperhitungkan dampak naiknya impor BBM dengan kehadiran mobil murah bebas Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Tentu saja kita mendukung kebijakan diversifikasi energi dengan lebih mendorong penggunaan sumber energi terbarukan. Namun, dalam konteks penyelesaian masalah mendasar dewasa ini, kebijakan itu bukanlah obat pengurang rasa sakit, melainkan sebatas vitamin penyegar jangka menengah dan panjang.

Demikian pula dengan isi paket pertama lainnya seperti peningkatan tarif PPnBM untuk mobil impor utuh dan barang mewah lainnya serta pengurangan pajak bagi perusahaan yang mengekspor minimum 30 persen dari produksi. Ini semua bagus, tetapi baru terasa dampaknya untuk jangka menengah.

Di tengah perekonomian dunia yang masih tertekan, tak mudah bagi pengusaha ekspansi di mancanegara. Lagi pula, penanaman modal asing tidak lagi menyemut di sektor-sektor berorientasi ekspor seperti sebelum krisis 1998 sehingga kehadiran investor asing tidak banyak menambah kapasitas ekspor nasional.

Satu-satunya kebijakan paket pertama yang ampuh menekan defisit akun semasa adalah mendorong ekspor mineral dengan pelonggaran tata niaga. Sungguh sangat ironis. Lagi-lagi ekspor sumber daya alam (SDA) jadi andalan. Adalah peningkatan ketergantungan atas SDA ini yang menjadi salah satu pemicu lonjakan defisit akun semasa sebagai akibat kemerosotan harga komoditas di pasar internasional.

Entah sampai kapan pengurasan kekayaan alam yang kian menjadi-jadi terus berlangsung. Menteri Koordinator Perekonomian boleh saja lantang mengancam pemberlakuan larangan ekspor mineral mentah mulai tahun 2014 sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Bagaimana mungkin hendak mengekspor hasil olahan komoditas mineral kalau sampai sekarang tak satu pun pembangunan fasilitas peleburan rampung.

Penyumbang terbesar kedua terhadap defisit akun semasa adalah repatriasi laba perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pembayaran keluar dari investasi asing ini tahun 2009 berjumlah 8,7 miliar dollar AS, lalu meningkat 45 persen menjadi 12,6 miliar dollar AS tahun 2010. Peningkatan berlanjut tahun 2011 dan 2012 masing-masing menjadi 17,7 miliar dollar AS dan 17,8 miliar dollar AS. Untuk paruh pertama tahun 2013, repatriasi laba sudah 8,1 miliar dollar AS.

Tak ada salahnya jika pemerintah segera meluncurkan paket insentif bagi perusahaan asing yang bersedia menanamkan kembali sebagian labanya dalam bentuk perluasan kapasitas produksi ataupun investasi baru.

Pilihan kebijakan untuk menghasilkan dampak segera sangat terbatas. Apalagi kalau dunia usaha cenderung menunggu atau menunda keputusan bisnis. Karena itu, apa pun kebijakan yang ditawarkan pemerintah tak beroleh tanggapan segera.

Dengan demikian, mau tak mau pemerintah harus menggulirkan paket stimulus untuk mengimbangi penurunan ekspansi dunia usaha dan pelemahan konsumsi masyarakat. Jika dibiarkan tanpa injeksi dana tambahan dari APBN, boleh jadi kemerosotan pertumbuhan investasi yang terjadi selama empat triwulan berturut-turut dan penurunan pertumbuhan belanja masyarakat yang terjadi selama 3 triwulan berturut-turut bakal kian parah.

Bergegaslah memilih proyek padat karya yang tidak rumit, berskala massal, cepat rampung, dan memberikan maslahat bagi rakyat banyak serta perekonomian. Pembangunan dan rehabilitasi jalan bisa dipilih. Pembangunan dan rehabilitasi selokan di kiri-kanan jalan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan jalan. Perbaikan kualitas jalan diharapkan mengurangi ongkos logistik dan selanjutnya ikut menekan inflasi.

Walaupun terlambat, masih ada celah-celah kecil yang bisa dioptimalkan supaya rupiah tidak lunglai berkepanjangan, supaya risiko eksternal bisa ditekan. Vitamin boleh disodorkan, tetapi sodorkan dulu obat sakit kepala.

*DImuat di Harian Kompas, Senin, 16 September 2013, hal. 15.