Jakarta Beda Ame Detroit, Be!!!


Mantan Gubernur Jakarta mengingatkan Gubernur Jokowi soal kemungkinan Jakarta bisa bernasib seperti Detroit yang mengalami kebangkrutan. Lihat Foke “Ingatkan Jokowi dan Warga soal Kemungkinan Jakarta Tenggelam” – Kompas.com  http://kom.ps/AFXWNV.

Pada bulan Juli 2013 pemerintah kota Detroit mengajukan Bab 9 kebangkrutan (Chapter 9  bankruptcy) ke pengadilan federal karena gagal membayar utang. Outstanding utang Detroit sekitar 19 miliar dollar AS atau sekitar Rp 195 triliun. Dengan mengajukan Bab 9 kebangkrutan, pemerintah kota Detroit bisa membayar hanya sebagian kewajiban utangnya yang jatuh tempo kepada kreditor—kebanyakan investor institusional—agar bisa tetap “bernafas” seraya berupaya merestrukturisasi utangnya. Utang kian menumpuk untuk membiayai defisit anggaran yang setiap tahun hampir selalu defisit.

Pemerintah daerah DKI Jakarta (Pemda Jakarta) tak pernah menerbitkan surat utang (municipal bonds) seperti Pemko Detroit. Pemda Jakarta juga boleh dikatakan tak menjalankan anggaran defisit, karena itu tak perlu menerbitkan surat utang. Jadi, bagaimana mungkin Pemda Jakarta mengalami gagal bayar utang seperti Detroit.

Kebangkrutan Detroit tidak terjadi tiba-tiba, melainkan berproses sangat panjang. Pada tahun 1960 Detroit memiliki pendapatan per kapita tertinggi di Amerika Serikat. Penggerak utama perekonomian adalah industri manufaktur, terutama industri otomotif. Jumlah penduduk kala itu sekitar 2 juta jiwa.

Karena industri otomotif di AS semakin tidak kompetitif, produsen otomotif AS memindahkan fasilitas produksi ke Meksiko di bawah kerangka NAFTA (North America Free Trade Agreement). Penetrasi mobil impor kian gencar sehingga membuat industri otomotif AS kian kedodoran. Perekonomian Detroit tentu saja terpukul. Pengangguran meningkat, jumlah orang miskin membengkak, dan jumlah penduduk yang buta huruf fungsional bertambah. Porsi penduduk tidak produktif meningkat pesat. Penduduk produktif pindah ke daerah yang lebih atraktif, sehingga jumlah penduduk turun menjadi sekitar 700 ribu jiwa pada tahun 2010. Akibatnya bermunculan kawasan kumuh dan tak berpenduduk.

Jakarta berbeda. Bisa saja Jakarta mengalami nasib mirip Detroit jika arah pembangunan di jakarta berubah drastis dan ugal-ugalan. Tanda-tanda ke arah . Namun, sejak dulu perekonomian Jakarta tak pernah bergantung pada satu sektor, apalagi satu industri. Perekonomian Jakarta lebih beragam.

Jakarta tidak pula mengalami penurunan jumlah penduduk. Bahkan Jakarta amat kaya dengan penduduk usia produktif. Jakarta sedang menikmati puncak bonus demografi. Sebagian besar penduduk Jakarta berusia 20-44 tahun. Hanya Jakarta yang memiliki kemewahan ini.

jakarta_population

Dampak dari penurunan penduduk dan kemerosotan perekonomian Detroit adalah pada penerimaan pajak. Di AS pemerintah negara bagian dan pemerintah kota berhak mengenakan pajak pendapatan. Pemerintah kota juga berhak sepenuhnya atas pajak penjualan. Tak pelak lagi, kapasitas penerimaan pemko Detroit dari pajak turun, sedangkan pengeluaran cenderung naik terus. Maka, defisit anggaran (APBN) terus berlangsung sehingga utang pun naik terus.

Jakarta berbeda. Pajak atas laba perusahaan sepenuhnya merupakan hak pemerintah pusat. Pajak penghasilan perseorangan ditarik oleh pusat dan 20 persen diserahkan kepada daerah. Pembayar pajak paling banyak ada di Jakarta. Tahun 2013 Pemda Jakarta memperoleh dana bagi hasil dari pemerintah pusat–yang sebagian besar dari pajak perseorangan–senilai Rp 9,2 triliun. Sementara itu pendapatan asli daerah (PAD) terus meningkat dari sumber yang sangat beragam.

Sejauh ini kita tidak melihat anggaran Pemda Jakarta digunakan untuk yang aneh-aneh, bahkan semakin banyak porsi yang dialokasikan untuk kepentingan publik. Tentu saja Pemda Jakarta mulai harus hati-hati dan lebih terukur. Jangan sampai, misalnya, dalam menyediakan fasilitas perumahan untuk warga serba gratis dan tidak memperhitungkan ongkos pemeliharaan, sehingga beban APBN 5-10 mendatang sangat berat. Jangan sampai seperti di Venezuela yang akhirnya menimbulkan masalah baru dalam APBN mereka.

Kita mendambakan Jakarta yang berkeadaban. Kepentingan publik di atas segalanya. Kalau Jakarta berhasil, rasanya kita semakin optimistik Indonesia pun bakal berhasil.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Urban Development and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Jakarta Beda Ame Detroit, Be!!!

  1. Feri Latief says:

    Negeri ioni harus kasih posisi penting bidang ekonomi untuk abang!

  2. rahmatt says:

    agak jauh memang membandingkan detroit dengan jakarta, dalam konteks kebangkrutan. belum ada pemda di Indonesia yang menerbitkan surat utang
    Pemda memperoleh pinjaman paling dari penerusan pinjaman — yang ternyata ada sebagiannya macet
    kalau yang macet2 itu, apa mungkin dibangkrutkan saja, Pak? hehehe

    nice share, Pak
    saya follow blog Bapak

    • faisal basri says:

      Terima kasih banyak. Berharap kritik dan masukannya. Kebanyakan yg macet itu pinjaman pemda yg dipakai oleh PDAM. Tapi tetap saja sebagian besar PDAM konsisi keuangannya tak sehat. Business modelnya yg perlu dirombak.

  3. patrya says:

    Pak Faisal, membaca blog bapak sama seperti saya membaca blog-nya Paul Krugman atau Thomas Friedman di NYT. Mencerahkan!

    • faisal basri says:

      Kedua orang itu sangat hebat, kritis. Pandangannya berdasarkan keyakinan yg kuat. Saya hanya sampaikan apa adanya supaya lebih mudah disadari oleh kita semua. Masih terus belajar untuk lebih baik. Terima kasih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s