Tak Semua yang Diolah lebih Menguntungkan


Tak sedikit para ahli sekalipun yang meyakini keharusan untuk mengolah sumber daya alam yang kita miliki. Semakin diolah ke industri hilir, semakin besar nilai tambah yang bakal tercipta dan semakin besar kuentungan yang didapat.

Lalu muncul hitung-hitungan yang fantastik. Kalau semua diolah dengan membangun industri pengolahan hasil laut, betapa besar nilai tambah yang bakal tercipta dan berapa banyak lapangan kerja baru bermunculan.

Kita tak bisa menyamaratakan perlakuan terhadap kekayaan alam laut kita itu. Misalnya lobster. Foto di bawah saya unduh dari news.nationalgeographic.com.

lobster-02

Lobster hidup harganya paling mahal. Jika kita bersantap di kedai yang menyediakan lobster hidup dan kita memilih sendiri, maka kita harus membayar mahal. Jika lobsternya sudah tak bernyawa, harganya akan jauh lebih murah. Dan jika diolah lebih jauh, dikuliti sehingga tinggal dagingnya saja serta dikemas dalam kaleng, maka harganya akan lebih jatuh lagi.

Berbeda halnya dengan mutiara. Jika diolah secara modern dengan teknologi tinggi, lalu bersertifikat, maka harganya akan selangit.

Sebagai negara maritim, kita harus menguasai teknologi kelautan dan bisnis khas maritim. Tak semua bisa gunakan pendekatan dan cara pandang berbasis darat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.