Peluang Emas


Pada awal kemerdekaan, PDB (produk domestik bruto) per kapita Indonesia dan Korea hampir sama, sekitar 70 dollar AS. Pada tahun 1980, PDB per kapita Korea sudah 3,1 kali Indonesia, masing-masing 1.674 dollar AS dan 536 dollar AS. Pada tahun 2012 Korea kian meninggalkan Indonesia dengan PDB per kapita 6,4 kali Indonesia, masing-masing 22.590 dollar AS dan 3.557 dollar AS.

Bagaimana perbandingan dengan China? Setahun sejak peluncuran kebijakan pintu terbuka yang digulirkan Deng Xiaoping, PDB per kapita China baru 193 dollar AS atau sepertiga dari PDB per kapita Indonesia. Pada tahun 2012, PDB per kapita China melesat jadi 6.031 dollar AS atau 1,7 kali PDB Indonesia. Dalam waktu 32 tahun (1980-2012) PDB per kapita China naik 32 kali lipat, sedangkan PDB per kapita Indonesia naik hanya 7 kali lipat.

Mungkin kita tak bisa menyusul kedua negara itu. Yang bisa kita upayakan adalah mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat, syukur-syukur bisa mengurangi ketertinggalan dengan mereka.

Modal luar biasa yang kita miliki dewasa ini adalah struktur penduduk yang sangat belia, yang tak lagi melekat pada kedua negara itu. Duapertiga penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun. Jika dipersempit menjadi yang berusia 15-49 tahun, jumlahnya masih di atas separuh yakni 55 persen. Kelompok penduduk inilah menjadi tulang punggung peningkatan produktivitas perekonomian. Struktur penduduk Indonesia dewasa ini mirip dengan struktur penduduk Jepang tahun 1950 kala Jepang sedang gencar membangun kembali setelah kalah perang. Bahkan piramida penduduk Indonesia dewasa ini sedikit lebih baik ketimbang Jepang tahun 1950. Kala itu porsi balita di Jepang lebih besar ketimbang balita di Indonesia sekarang.

piramida

Pada tahun 2005 piramida penduduk Jepang sudah ramping di tengah dan membesar di atas. Memang, Jepang sudah memasuki masa aging population pada tahun 1970. Pada tahun 2055 piramida penduduk Jepang sudah berbentuk layang-layang, lebih banyak yang berusia tua (usia pensiun) dibandingkan penduduk yang bekerja, sehingga beban penduduk yang bekerja semakin berat karena harus lebih banyak menanggung penduduk berusia tua.

Dengan komposisi penduduk kita yang sangat muda, kita berpeluang memacu produktivitas perekonomian. Dependency ratio, yakni jumlah anak-anak dan orang tua dibandingkan dengan jumlah penduduk usia kerja, terus mengalami penurunan. Artinya, beban tanggungan orang yang bekerja terus berkurang. Dengan kondisi demografis seperti itu, potensi tabungan bertambah besar dan daya beli semakin tinggi. Masa  keemasan ini diperkirakan berakhir pada tahun 2030. Setelah itu Indonesia memasuki fase awal aging population.

demog

Tahun 2030 sudah dekat, tidak sampai 17 tahun lagi. Kita harus bergegas. Memacu diri agar masa keemasan tidak berlalu tanpa bekas.

Sejak sekarang, walaupun sebetulnya sudah sedikit terlambat, generasi produktif harus dipupuk agar betul-betul mampu mengaktualisasikan potensi terbaiknya secara maksimal. Mereka harus dipenuhi kebutuhannya. Jangan sampai waktu mereka banyak terbuang percuma di jalan berjibaku dengan kemacetan. Jangan sampai mereka tak bisa beristirahat dengan nyaman karena harus tinggal di rumah reot di pemukiman kumuh. Jangan sampai mereka berilmu cetek dengan ketrampilan ala kadarnya. Jangan sampai gaji mereka habis hanya untuk makan, perumahan, dan transportasi pada tingkat subsisten.

Jika kita cepat puas, merasa yang telah dicapai sekarang sudah bagus, maka celakalah masa depan orang-orang tua pada waktu memasuki aging population. Betapa tidak. Jika pertumbuhan ekonomi sampai tahun 2030 hanya 6 persen, maka pada tahun 2030 pendapatan pe kapita kita masih relatif sangat rendah, yaitu 3.583 dollar AS (real GDP per capita berdasarkan constant US$ tahun 2000). Seandainya pun kita mampu memacu perekonomian tumbuh 10 persen, pendapatan per kapita kita tahun 2030 masih jauh lebih rendah ketimbang negara-negara Asia yang sudah terlebih dahulu memasuki masa aging population.

sengsara

Peluang emas hanya datang sekali dalam perjalanan suatu bangsa. Bonus demografi ini harus kita nikmati. Kita tak boleh menyia-nyiakannya.

2 Comments

  1. pak faisal saya mohon ijin meng-copy image dari artikel ini untuk tugas perkuliahan pak.
    saya kesulitan mencari image tersebut di source utamanya. (situs world bank)
    terimakasih sebelumnya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s