Sesat Pikir Solusi Daging Sapi


sapi

Jika harga-harga terus meningkat untuk kurun yang relatif lama—bukan sekedar menghadapi Lebaran—hampir pasti persoalan terletak pada sisi pasokan. Bagaimana mungkin harga daging menjulang kalau pasokan sapi di dalam negeri cukup. Bagaimana mungkin membuat perencanaan pengadaan daging sapi yang baik kalau perkiraan populasi sapi saja awur-awuran. Kalau perkiraan populasi sapi awur-awuran, perkiraan kebutuhan impor pun awur-awuran.[i] Maka terbuka ruang lebar bagi para pemburu rente dan kelompok-kelompok kepentingan (vested interests) beraksi menggerogoti daya beli konsumen.

Rente yang diperebutkan sangat menggiurkan. Kita buat hitungan kasar saja. Pada tahun 2012, jumlah penduduk Indonesia sekitar 249 juta orang dan konsumsi daging per kapita setahun 1,9 kilogram. Dengan demikian, konsumsi daging nasional sekitar 473,1 juta kg. Harga daging sapi di Indonesia setidaknya dua kali lebih mahal daripada harga internasional. Jadi, jika harga daging sapi Rp 90.000 per kilogram, maka konsumen harus membayar tambahan paling tidak Rp 21,9 triliun. Itu baru daging semata. [ii]

Selama ini sebagian besar kebutuhan masyarakat untuk daging sapi berasal dari sapi potong lokal maupun sapi bakalan asal impor. Sedangkan daging sapi beku impor sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan khusus, terutama hotel dan restoran.

Pada bulan puasa lalu, harga daging sapi tak turun sebagaimana diharapkan pemerintah. Bahkan pada bulan Juli masih naik walaupun tak mencolok, hanya 4 persen dibandingkan bulan Juni. Presiden marah. Para pembantu Presiden tergopoh-gopoh mengupayakan penurunan harga dengan mempercepat realisasi impor. Agar mudah dan cepat, Bulog diberi izin mengimpor daging beku. Syukur realisasi impor oleh Bulog meleset, jauh lebih sedikit dari target. Kalau banyak, mungkin akan rugi karena daging beku impor kurang diminati oleh warga. Menteri Perdagangan pun baru tahu pedagang kurang berminat menjual daging impor.[iii].  Ternyata, sebagian warga juga lebih senang daging lokal dengan berbagai alasan.[iv]

Akibatnya harga daging sapi tak kunjung turun. Baru beberapa hari menjelang lebaran agak turun. Tentu saja, karena lebih separuh warga Jakarta sudah mudik.

Untuk menuntaskan persoalan kelangkaan daging sapi, Bulog mempertimbangkan rencana membangun usaha peternakan di Australia.[v] Alasan di balik rencana ini antara lain terseida lahan luas, ongkos produksi murah, banyak negara telah melakukan hal setrupa misalnya Malaysia dan Brunei Darussalam.

Belakangan Menteri BUMN tidak merestui niat Bulog ini. Namun rencana membangun usaha peternakan terus dilanjutkan oleh salah satu BUMN yang akan ditunjuk. Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengatakan dia segera menunjuk perusahaan negara yang akan membeli lahan seluas satu juta hektar di Australia untuk peternakan sapi.[vi] Dua BUMN yang diberikan kesempatan berkompetisi untuk mewujukan proyek ini adalah PT Pupuk Indonesia dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Dana yang dibutuhkan untuk membeli lahan diperkirakan mencapai Rp300 miliar, di luar biaya pembelian bibit sapi (lihat “BUMN akan beli lahan peternakan sapi di Australia,” Antaranews.com, 31 Juli 2013 atau tengok http://www.antaranews.com/berita/388428/bumn-akan-beli-lahan-peternakan-sapi-di-australia).

Beberapa minggu sebelumnya, pada awal Juli, Presiden justru mengundang investor Australia untuk mengembangkan usaha peternakan di Indonesia.[vii]

Tampaknya kali ini yang sesat pikir adalah Menteri BUMN dan Kepala Bulog. Indonesia tak kekurangan lahan. Untuk sawit bisa jutaan hektar, mengapa untuk peternakan sapi tak bisa? Bukankah NTT sejak dulu merupakan sentra produksi sapi andalan yang memasok sapi ke berbagai daerah?

Jangan tiru Australia. Di sana tak dikenal usaha sapi rakyat. Tak juga dikenal pemilikan tanah bersama seperti tanah ulayat atau tanah adat atau tanah nagari.

Rangkul rakyat di Papua, NTT, NTB, dan di daerah lain untuk mengembangkan usaha sapi berskala besar dalam naungan usaha peternakan rakyat. Jangan beli tanah mereka, jadikan mereka sebagai bagian dari pemilik usaha ini. Universitas dilibatkan untuk mengembangkan teknologi yang bisa menghasilkan sapi bibit unggul, teknologi makanan yang lebih mempercepat penggemukan, hingga aspek-aspek rinci usaha peternakan modern.

Mengapa sapi dari NTT tersingkir di tanah airnya sendiri? Apalagi kalau bukan karena ongkos angkut yang sangat mahal. Jauh lebih mahal ketimbang ongkos angkut dari Australia ke Jawa.

Maka, yang harus dibenahi adalah transportasi laut. Bukan membuka usaha peternakan di Australia.

Beginilah akibat tak memahami jati diri, jatidiri sebagai negara maritim.  Jadinya makin banyak yang sesat pikir.


[i]  Faisal Basri, “Ekonomi Rente,” Kompas, 4 Maret 2013, hal. 15.

[ii] Faisal Basri, “Darurat Korupsi,” Kompas, 11 Februari 2013, hal. 15.

[iii]  “Gita Wiryawan Baru Tahu Daging Impor Ditolak Pasar,” tempo.co, 19 Juli 2013.  http://www.tempo.co/read/news/2013/07/19/173497837/Gita-Wiryawan-Baru-Tahu-Daging-Impor-Ditolak-Pasar

[v] “Bulog akan Buka Peternakan Sapi di Australia,” inilah.com, 25 Juli 2013. http://web.inilah.com/read/detail/2014101/bulog-akan-buka-peternakan-sapi-di-australia#.UgdazdK-3fM.

[vi]  “2 BUMN Bangun Peternakan Sapi 1 Juta Ha di Australia,” bisnis.com, 31 Juli 2013.  http://www.bisnis.com/m/2-bumn-bangun-peternakan-sapi-1-juta-ha-di-australia

[vii]  “SBY Undang Investor Australia Bangun Peternakan Sapi,” Metrotvnews.com, 15 Juli 2013. http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/05/2/166126/SBY-Undang-Investor-Australia-Bangun-Peternakan-Sapi.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Sesat Pikir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Sesat Pikir Solusi Daging Sapi

  1. bsetiawan55 says:

    Para perencana ekonomi kita terlalu terpaku oleh kehendak mengejar hasil cepat. Tanpa mengkaji alternatif rencana yang mendatangkan manfaat sosial yang lebih besar. Mungkin ada yang kurang dalam mata kuliah atau isi kuliah yang mereka ambil. Lha apa kerjanya Dinas Pertanian dan Peternakan selama ini? Hanya menghitung populasi mungkin.

    • faisal basri says:

      Mungkin untuk mengejar pegelaran pemilu 2014, Mas Setiawan. Kelihatannya berlomba-lomba mengejar rente.

      • bsetiawan55 says:

        Ya saya tahu contohnya, bang Faisal, mereka sudah di KPK. Mereka senang mengejar daging sapi, dan daging manusia juga. Masya Allah.
        Tetap semangat Bang. Beri pencerahan terus kepada masyarakat agar tidak banyak sesat pikir.
        Salam

  2. Pingback: Faisal Basri menyoal harga daging sapi yg bertahan tinggi. | Lampung Metro

    • faisal basri says:

      Lampung bisa jadi andalan penggemukan sapi. Limbah pohon tebu bisa jadi makanan bergizi buat ternak. Yg penting benahi pelabuhan, supaya tak perlu diangkut pakai truk. Jembatan Selat Sunda tak bakal membantu.

  3. Nita V R says:

    Menteri2nya nggak ada yg peka. Perbaiki peternakan kita. Apakah ternak2 itu dapat rumput berkwalitas baik?

    • faisal basri says:

      Padahal luar biasa banyak limbah sawit dan limbah pohon tebu. Diolah dan ditambahkan nustrisi bakal luar biasa hasilnya seperti yang saya saksikan sendiri di Riau. Petani sawit tambah sejahtera peroleh pendapatan tambahan dari ternak sapi. Tak ada sentuhan pemerintah sama sekali. mereka cuma minta satu, pemerintah jangan ganggu.

  4. susanto says:

    Kalau saya baca MH Menteri BUMN sudah mengusahakan dari tahun lalu tentang proyek sapi dengan sawit. Dan mengembangkan Sapi di NTT dan sekitarnya termasuk problem angkutan sudah dideteksi dan diusahakan.

    Usaha Mentan & Mendag yg kurang kyknya (IMHO)

    http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/02/13/capacity-manajemen-di-balik-kandang-sapi/
    http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/07/09/menghindari-perkawinan-inces-di-padang-savana/
    http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/12/03/setelah-persoalan-makanan-yang-mahal-dipecahkan/
    http://dahlaniskan.wordpress.com/2013/03/04/problem-pedet-di-lobi-hotel/

  5. Pencerah says:

    saia setuju dengan pendapat bang faisal… kebanyakan pejabat lebih cenderung pada kebijakan yg serba instant biar cepat kelihatan hasilnya, shg menapat nilai bagus dari atasannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s