Ironi Negara Maritim


Nusantara takluk berulang kali oleh kekuatan armada laut asing. Sekarang kita terpedaya oleh dominasi angkutan darat. Sudah ribuan triliun terkuras dari kas negara untuk membiayai subsidi BBM.

Hasilnya, daya saing melorot, ongkos logistik mahal, yaitu 27 percent terhadap produk domestik bruto (Bisnis Indonesia, 2 Mei 2013, hal. 7, Laporan Khusus). Rata-rata Asia sekitar 17 persen, China 15 persen, India 13 persen.[i]

Data perbandingan antarnegara menunjukkan Logistik Performance Index (LPI) Indonesia pada tahun 2012 berada di urutan ke-59, kalah dengan Vietnam yang berada di urutan ke-53. Apatah lagi dengan negara-negara Asean-5 (Singapura di urutan pertama, Malaysia ke-29, Thailand ke-38, Philippines ke-52). Juga kalah dengan China yang berada di urutan ke-26.

Pada tahun 2007 posisi Indonesia lebih baik 10 peringkat dari Vietnam, masing-masing di urutan ke-43 dan ke-53. Posisi Indonesia anjlok ke urutan ke-75 pada tahun 2010, sedangkan Vietnam tetap di urutan ke-53. Di antara negara-negara Asean, Indonesia cuma unggul dari Laos, Kamboja, dan Myanmar.

logistic

Penjajah menikmati keuntungan luar biasa dari kekayaan alam Indonesia. Namun, sekarang, setelah 68 tahun merdeka, bukannya menjadi negara pengekspor utama kekayaan alam (leading exporter of natural resources), melainkan justru sebagai leading importer of natural resources, tepatnya di urutan ke-14. Sebaliknya, Singapura yang tak “punya apa-apa” menjadi leading exporter of natural resources nomor 14. Data ini diambil dari WTO, World Trade Report 2010.

importer

Sumber daya alam yang kita ekspor amat beragam, dari beras, gandum, kedelai, cabai, bawang, hingga alumina, minyak mentah dan BBM. Juga garam yang diimpor antara lain dari Australia dan Singapura.[i]

Indonesia tak kekurangan potensi untuk menghasilkan garam. Sentra prosuksi Madura makin merosot karena pembangunan jembatan Suramadu membuat harga tanah di pulau Madura naik sehingga tak lagi layak untuk produksi garam. Diperkirakan dalam waktu tak terlalu lalu lahan untuk produksi garam beralih menjadi kawasan industri.

Yang punya potensi cukup besar sebagai sentra produksi garam yang baru adalah Nusa Tenggara Timur. Namun, bagaimana mungkin bisa dikembangkan jika ongkos angkutnya ke jawa sangat mahal, lebih mahal dai ongkos angkut dari Australia ke Jawa.

Jika laut diabaikan, kita akan kian banyak menyaksikan ironi. Ya, ironi negara maritim yang membuat daya saing kita semakin tergopoh-gopoh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s