Kecenderungan Baru Dunia: Perdagangan Melemah

Sudah tiga tahun pertumbuhan volume perdagangan dunia lebih rendah ketimbang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia. Di tengah arus globalisasi yang tidak mengendur, fenomena ini nyaris tak pernah terjadi bertahun-tahun. Bandingkan baris pertama dan baris terakhir pada peraga. Tahun ini besar kemungkinan fenomena itu berlanjut.

world trade

Dengan menggunakan data yang lebih panjang, terlihat ekspor dunia kentara sekali mengalami tekanan.

imf

Pelemahan kinerja perdagangan dunia juga tercermin dari Baltic Dry Index yang menyentuh titik terendah sejak indeks ini diperkenalkan tahun 1985. Pada November 2015 BDI menyentuh aras di bawah 500, tepatnya 495. Lihat Menyikapi Tantangan Ekonomi 2016

baltic

Majalah Economist pernah pula mengulas persoalan ini. Pertumbuhan nilai perdagangan dunia sudah berada di zona negatif sejak 2012, sedangkan pertumbuhan volume perdagangan dunia mendekati nol.

economist.png

Kondisi perdagangan dunia yang melemah berakibat tekanan terhadap negara-negara emerging markets semakin berat. Pasar negara-negara maju tidak bisa lagi diandalkan sebagai sumber pertumbuhan ekspor. Persaingan semakin ketat.

Jika hendak menembus pasar negara maju hampir tidak ada piliha kecuali merebut pangsa pasar negara pesaing atau berkolaborasi dengan mereka semisal bergabung dengan Trans Pacific Partnership (TPP). Vietnam dan Malaysia memilih bergabung dengan TPT. Filipina telah menyatakan niat serius untuk bergabung. Presiden Jokowi juga menyatakan minatnya ketika bertemu Presiden Amerika Serikat di Gedung Putih tahun lalu.

tpp

India menempuh cara lain, yaitu mencari pasar baru dengan melakukan penetrasi ke negara-negara tetangga di bibir Samudera Hindia. Walaupun mayoritas negara di kawasan itu masih relatif miskin, namun jika digabungkan potensinya melebihi ASEAN.

iora

Tidak ada kata lain bagi Indonesia kecuali berbenah total di segala lini untuk meningkatkan daya saing dan mengintensifkan diplomasi ekonomi. Lihat Menunggu Diplomasi Ekonomi Total.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s