Integritas


Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Rasulullah paling terkemuka, bertemu dengan seorang pengembala domba. Umar RA menguji sang pengembala. “Bolehkan aku membeli seokor domba yang engkau gembalai? Sang pengembala menjawab: “domba-domba ini milik majikanku.” Umar RA: “Betapa banyak domba yang engkau gembalai. Kalau satu saja aku beli, niscaya majikanmu tidak akan mengetahuinya. Kalaupun majikanmu mengetahui dombanya kurang satu, katakan saja dimakan srigala.” Sang pengembala menatap wajah Amirulmukminin seraya berkata: “Kalaulah majikanku tidak mengetahui, sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Khalifah Umar berlinangan airmata, lalu ia peluk pengembala hamba sahaya itu.

Itulah sosok berintegritas.

Suku Samin memiliki nilai-nilai yang terun temurun. Orang Samin pantang mencelakakan dan merebut hak orang lain. Ajarannya tidak membolehkan iri hati, usil terhadap orang lain, apalagi berbohong. Harus jujur terhadap orang lain dan diri sendiri.

Itulah unsur-unsur manusia berintegritas.

Pedagang yang mempermainkan timbangan adalah pedagang tak berintegritas. Menutup-nutupi cacat barang dagangan demikian pula. Pengusaha yang membayar upah pekerjanya ketika peluh sudah lama kering dan nilainya tidak patut sama saja dengan praktek eksploitasi.

Perusahaan yang tidak membayar pajak dengan benar sama saja dengan pencoleng. Juga kalau melakukan mark up atau menimbun barang dagangan atau bersekongkol mengatur harga dan kuantitas di pasar untuk mengeruk laba tak wajar dengan cara “merampok” surplus konsumen. ““There should not be tension between making profits and adhering to traditional principles of decency and fairness, pesan Jon M. Huntsman dalam bukunya Winners Never Cheat.

Umar bin Abdul Azis terkenal sebagai pemimpin yang berintegritas. Sebagai pemimpin, integritas tertingginya adalah menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Khalifah yang masih keturunan Umar bin Kattab ini melakukan reformasi birokrasi radikal, antara lain merampas kembali harta kekayaan khalifah sebelumnya yang didapat dengan menyalahgunakan kekuasaan dan mengembalikannya ke baitul mal, memecat pegawai yang tidak cakap akibat KKN dan mengangkat pejabat-pejabat yang kompeten, tidak menikmati fasilitas negara, mengutamakan penigkatan kesejahteraan golongan masyarakat yang lemah, serta tidak memupuk kekayaan untuk diri dan keluarganya. Selama kurun waktu pemerintahannya yang singkat, tak sampai tiga tahun, Umar bin Abdul Azis berhasil menyejahterakan rakyatnya, sehingga baitul mal penuh dengan timbunan harta zakat karena tak seorang pun merasa berhak menerima zakat. Bukan karena rakyatnya sudah amat makmur, melainkan karena segala kebutuhan pokok rakyat terpenuhi dan kebahagiaan dunia akhirat telah merasuk dalam hati sanubari rakyat—sebagai wujud bersyukur kepada Sang Pencipta atas apa yang telah mereka peroleh.

Integritas mengandung makna sangat dalam dan multidimensional. Oleh karena itu sosoknya hadir dalam setiap komunitas dan jenjang dalam benbagai bentuk, dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Integritas bisa melekat pada diri seorang pengembala, buruh rendahan, profesional, ibu rumah tangga, ayah kepala keluarga, pengusaha maupun penguasa dari jenjang terendah hingga tertinggi.

Juga bisa melekat pada perusahaan, sekolah, lembaga nonpemerintah atau NGO. Integritas pada organisasi-organisasi itu menjelma dengan istilah good corporate governance, kredibilitas dan akuntabilitas. Terbukti dari kajian ilmiah, perusahaan-perusahaan yang menyandang good corporate governance, harga sahamnya memperoleh harga premium sekitar 10 persen di atas harga rerata perusahaan yang terjaring sebagai sampel penelitian. Sebaliknya, sangat kasat mata perusahaan-perusahaan yang tata kelolanya buruk harga sahamnya tidak kunjung melebihi tingkat tetinggi sebelumnya setelah mengalami kemerosotan akibat krisis. Saham perusahaan-perusahaan itu mendapat julukan saham gorengan. Harganya tersudut mendekati nol rupiah.

Sosok-sosok pribadi yang tidak berintegritas berpotensi mengalami nasib malang dalam perjalanan hidupnya jika tidak mau berbenah diri. Bagi yang hanya memikirkan diri sendiri, tidak memupuk modal sosial atau tidak peduli terhadap sekelilingnya—apalagi terhadap kelompok masyarakat yang lemah—sangat berpotensi mengalami ekslusi sosial, tidak ada yang menolong ketika menghadapi kesulitan, dan ketika tiba ajalnya tak banyak sanak famili dan handai taulan yang mengantarkan jasadnya ke penguburan.

Sosok yang berintegritas boleh jadi hidup tak bergelimangan harta tetapi selalu terpenuhi kebutuhan hidupnya taktaka dibutuhkan. Tumpukan uang dan harta benda yang disimpan di safe deposit box atau dipamerkan di rumah mewah belumlah menjadi rezeki. Baru menjadi rezeki jika kita sudah mengonsumsinya atau masuk ke dalam tubuh kita dan menikmatinya dengan penuh bahagia.

Kita pernah mengalami masa yang ditandai oleh para penegak hukum yang berintegritas, para guru yang penuh dedikasi dan berkarakter, pemimpin bangsa yang berkepribadian terpuji. Ada sekolah yang tak memberikan toleransi bagi muridnya yang menyontek. Makin banyak kepala daerah yang melakukan pembaruan nyata tanpa kerap mengampanyekan dirinya di media massa. Satpam atau pembersih kantor yang menyerahkan jutaan uang yang ditemukannya ketika bertugas karena merasa bukan haknya. Benih-benih integritas ada dalam masyarakat maupun pribadi-pribadi manusia Indonesia. Namun benih-benih kebaikan itu tertutup oleh praktek-praktek tak terpuji yang setiap hari kita jumpai, terutama yang dipamerkan para pemimpin.

Memang, tidak cukup kita menunggu sampai kebaikan tumbuh alami mengalahkan keburuhan dan kejahatan. Integritas bakal menjadi minoritas kalau kita mendiamkan kezaliman merajalela.

Peradaban harus dibangun dengan seperangkat instutusi yang terus diperbarui—institutions matter. Integritas bakal kian menyeruak jika dan hanya jika aturan main dalam interaksi sosial diperbarui agar hak setiap warga negara terlindungi. Lantas, memperluas kesempatan atau akses bagi setiap individu mengaktualisasikan segala potensi beragam yang dikaruniai oleh Sang Pencipta. Diciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tidak lain untuk saling berkenalan (berinteraksi), saling mengisi. Mekanisme insentif dikedepankan untuk berlomba-lomba mewujudkan kebaikan.

Integritas tidak akan hadir hanya dengan dipidatokan. Masayarakat berintegritas tidak muncul karena menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah. Melainkan, integritas akan mengemuka jika terinstitusionalisasikan lewat mekanisme insentif dan disinsentif dan dipancarkan oleh para pemimpin formal dan informal. Jika demikian, revolusi mental dengan sendirinya bakal hadir.

***

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Humaniora and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Integritas

  1. Zenra Katari says:

    Reblogged this on zenrakatari and commented:
    Integrity.. what a word. A scary word, I shall say.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s