Menjawab Tuduhan TRTKM Terlibat dalam Sindikat Mafia Migas Internasional


Kompas.com pada Rabu, 3 Juni 2015, pk.18:59 WIB memuat berita berjudul “Giliran Pengamat Tuding Tim Faisal Basri Terlibat Mafia Internasional.” Lihat http://kom.ps/AFsbSz

Indikasi I

Tudingan itu berlandaskan tiga indikator. Pertama, soal subsidi migas. “Sejak awal tim mafia migas memandang bahwa subsidi membebani APBN, dan mengusulkan penggunaan kartu untuk subsidi BBM dan distribusi tertutup untuk gas,” kata Salamuddin dalam konferensi pers Rabu (3/6/2015).

Salamuddin menjelaslan, menurut tim Faisal, cara mengurangi beban APBN adalah dengan menghapuskan Premium atau RON 88 dan menggantikannya dengan Pertamax atau RON 92. Di sisi lain Tim Faisal juga mendorong-dorong pemerintah untuk menerapkan mekanisme pendistribusian subsidi dengan sistem target.

Jawab

SK pengangkatan ketua Tim tertanggal 14 November 2014, sedangkan kenaikan harga BBM dan penghapusan subsidi untuk premium mulai berlaku 18 November 2014. Pada waktu itu Tim lengkap belum terbentuk. Rekomendasi pertama Tim justru tidak menghapuskan subsidi untuk premium melainkan menerapkan subsidi tetap. Tim tidak merekomendasikan sama sekali mengenai penggunaan kartu. Lihat rekomendasi pertama Tim http://wp.me/p1CsPE-12A.

Penghapusan RON 88 adalah untuk membakar sarang mafia. RON 88 tak ada lagi di pasar.

Tidak benar Tim mendorong-dorong pemerintah menerapkan mekanisme pendistribusian subsidi dengan sistem target.

Indikasi II

Adapun indikasi kedua adalah rekomendasi yang berkaitan dengan fiskal. Secara serta-merta, tim memberikan rekomendasi untuk pemberian insentif fiskal, penghapusan pajak, dan lain sebagainya. Menurut Salamuddin, kebijakan ini akan semakin memperluas dominasi asing dalam sektor migas. “Tim ini terlihat sekali kecenderungannya pada rencana untuk memberikan dominasi pada penanaman dan penguasaan modal asing,” kata dia.

Jawab

Tudingan itu tidak berdasar. Tak ada sama sekali rekomendasi seperti it. Apalagi dikatakan serta merta.

Indikasi III

Sementara itu, indikasi ketiga adalah yang berkaitan dengan regulasi. Salamuddin mengatakan revisi Undang- Undang No 22 tahun 2001 justru melemahkan Pertamina. Salah satunya terlihat dari rencana pembentukan BUMN Khusus yang akan mengelola migas. “Dari ketiga cakupan itu, saya sampai kesimpulan tim reformasi tatakelola migas merupakan bagian langsung terlibat rezim internasional, sindikat, kartel dan mafia internasional. Mereka sadar atau tidak  berada dalam alur permainan itu,” kata Salamuddin.

Jawab

Telaah dengan seksama rekomendasi Tim yang memperlakukan PERTAMINA sebagai “anak emas”. Rekomendasi kami justru dipandang sangat nasionalis, sebagaimana yang tertera di Koran Singapura The Strait Times. (http://wp.me/p1CsPE-15M). Tetapi, bukan karena itu kita menutup mata terhadap praktek-praktek PERTAMINA yang harus diperbaiki. Kita tidak bias kembali ke masa lalu. Silakan baca rekomendasi lengkap Tim

 

 

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Migas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s