Refleksi Akhir Tahun: Mengapa Perekonomian Indonesia Kian Loyo?


Pada 11 Desember 2015, di blog ini saya menayangkan tulisan berjudul “Jatuh-Bangun Perekonomian Indonesia” (http://wp.me/p1CsPE-1f6). Mengapa perekonomian Indonesia kerap terantuk dan mengalami stagnasi sehingga semakin tertinggal dengan negara-negara tetangga? Belum mencapai tingkat pendapatan per kapita yang cukup tinggi tetapi sudah melambat dan cenderung melandai.

Banyak faktor yang memengaruhinya. Di antara yang terpenting dan bersifat mendasar, sangat boleh jadi salah satunya adalah kecenderungan perekonomian Indonesia semakin tertutup. Salah satu ukuran yang lazim digunakan untuk mengukur tingkat keterbukaan (degree of openness) suatu perekonomian ialah  nisbah ekspor (X) dan impor (M) terhadap produk domestik bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP).

Peraga di bawah menunjukkan derajat keterbukaan (X + M) perekonomian Indonesia turun dari 53,0 persen tahun 1981 menjadi 48,2 persen tahun 2014. Penyebabnya ialah komponen ekspor (X) yang turun dari 29,0 persen menjadi 23,7 persen, sedangkan komponen impor (M) naik tipis dari 24,0 persen menjadi 24,5 persen.

Gambar1

Kasus Indonesia bisa dikatakan ganjil karena hampir seluruh negara semakin terbuka dan kian terlibat dalam perdagangan internasional, tak peduli negara kapitalis ataupun negara sosialis, tak peduli negara yang berpenduduk banyak (di atas 100 juta jiwa), sedang (50-99 juta jiwa) ataupun sedikit (di bawah 50 juta jiwa). Singapura satu-satunya pengecualian namun sangat bisa dipahami karena tingkat keterbukaannya sangat ekstrem tinggi sebagaimana tercermin dari nisbah ekspor dan impor terhadap PDB  yang mencapai 351 persen.

Untuk mengetahui pola jangka panjang yang lebih stabil, mari kita tengok peraga selanjutnya yang menggunakan rerata lima tahunan. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten bahwa perekonomian Indonesia semakin tertutup sejak memasuki dasawarsa 2000-an. Kondisi dewasa ini sama dengan 30 tahun silam.

Gambar3

Sekalipun nilai ekspor Indonesia telah masuk kelompok top-30, pertumbuhannya relatif rendah dibandingkan negara di Asia (berwarna merah) kecuali Jepang. Pangsa ekspor Indonesia dalam keseluruhan ekspor dunia terkecil di antara seluruh negara Asia yang masuk top-30, yakni hanya 0,9 persen pada tahun 2014, turun dari 1,0 persen pada tahun 2009.

Kunci untuk masuk ke jajaran elit negara pengekspor dunia adalah keberhasilan industrialisasi yang membuat produk manufaktur mendominasi ekspor. Peraga di bawah menunjukkan Indonesia dan Brazil  yang ekspornya masih didominasi komoditas primer, sedangkan Saudi Arabia merupakan kasus khusus karena dominasi ekspor minyak mentah.

Ketergantungan yang masih tinggi terhadap ekspor komoditas primer (bahan mentah) yang harganya amat berfluktuasi menyebabkan kinerja ekspor Indonesia dan Brazil tidak secemerlang 10 negara Asia yang mendominasi jajaran top-30 dunia. Sekali lagi Jepang merupakan pengecualian karena telah memasuki tahapan aging population, sehingga industrinya semakin banyak yang direlokasi ke luar Jepang.

Gambar4

Nilai ekspor Indonesia selama kurun waktu 2009-2014 hanya tumbuh 47 persen, jauh lebih rendah ketimbang China (95 persen) dan India (108 persen), juga lebih rendah dibandingkan tetangga dekat seperti Thailand (50%) dan Malaysia (49 persen).

Memperdagangkan jenis barang apa pun niscaya berpotensi meraih keuntungan (gains from trade). Kalau hendak meraih keuntungan dari perdagangan (gains from trade). Namun, jika hendak menikmati keuntungan ekstra (additional gains from trade), tidak ada pilihan lain kecuali membuat produk manufaktur lebih mengedepan dalam ekspor kita, karena sekitar 62 persen barang-barang yang diperdagangkan adalah produk manufaktur.

Lebih jauh, perdagangan atau pertukaran di antara produk manufaktur (intra-industry trade) itulah yang merupakan sumber dari additional gains from trade sesuai dengan kaidah increasing return to scale.

Gambar6

Seraya tertatih-tatih melakukan penetrasi di pasar global, produk-produk impor kian merangsek pasar lokal. Pertumbuhan nilai impor Indonesia selama periode 2009-2014 tertinggi setelah China. Berbeda dengan China dan India yang pertumbuhan impor yang tinggi diimbangi dengan pertumbuhan ekspor yang tinggi pula, pertumbuhan impor Indonesia dua kali lipat dari pertumbuhan ekspornya. Pertumbuhan pesat strata menengah di Indonesia menjadi  sasaran empuk  produk-produk impor.

Pelajaran yang bias dipetik dari peraga di bawah adalah negara-negara yang maju lebih pesat dari Indonesia ditandai oleh dominannya produk manufaktur dalam ekspor maupun impor mereka. Jadi, industrialisasi nyaris mutlak untuk memajukan kesejahteraan rakyat, karena dengan begitu bias meningkatkan porsi perdagangan intra-industri sebagai sumber tambahan dalam peningkatan kesejahteraan.

Gambar5

Sungguh sangat ironis perjalanan 70 tahun merdeka tetapi struktur ekspor masih seperti zaman kolonial.

Dalam satu dekade terakhir, ekspor kita bukannya semakin beragam, malahan impor yang semakin meriah. Peraga di bawah menunjukkan selama periode 2004-2014 impor semakin beragam, sedangkan ekspor justru sebaliknya.

Gambar7

Kita memiliki modal yang cukup untuk membalikkan kondisi ini. Kita pernah jauh lebih baik dari kondisi sekarang.

Di pengujung tahun ini, ada baiknya kita merenungi perjalanan bangsa yang sudah lumayan panjang, memetik hikmah dari keberhasilan maupun kegagalan, agar ke depan kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, tidak jumud.

Kita harus berubah kalau tidak mau digilas oleh globalisasi.

 

Geliat Ekonomi 2014


Apakah pesta kembang api dan dentuman mercon yang mengharu biru pada penutupan tahun 2013 bisa menjelma sebagai gairah baru tahun 2014? Apakah keriangan masyarakat menyongsong tutup tahun merupakan pertanda optimisme menapaki hari-hari baru walaupun  tampaknya tak akan lebih sepi dari tantangan? Apakah gelombang pelancong yang memadati obyek-obyek wisata di Tanah Air yang semakin membludak bakal menjelma sebagai kekuatan tak terbendung dalam menopang pertumbuhan ekonomi?

Memang, yang kita saksikan lebih mencerminkan dinamika masyarakat strata menengah. Mayoritas mereka adalah strata menengah-bawah yang sudah mampu mencicil sepeda motor. Walaupun Bank Indonesia memperketat persyaratan uang muka kredit sepeda motor, penjualan sepeda motor hanya turun sebentar. Pada bulan Juli 2013 penjualan sepeda motor mencapai rekor penjualan bulanan tertinggi. Rekor itu pecah lagi pada Oktober 2013. Strata menengah-tengah pun membesar. Mereka mampu membeli mobil 1.500 cc ke bawah. Penjualan mobil “LCGC” dalam tiga bulan (September-November) 2013 laris manis, mencapai 36.907 unit, gara-gara dopping pemerintah berupa pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Lebih-lebih lagi kelompok menengah-atas dan kelompok superkaya, tak terperikan.

Puluhan pengusaha yang kami ajak berdiskusi di berbagai kota besar tak satu pun yang pesimistik, mereka akan terus melakukan ekspansi usaha. Mereka menggeluti beragam usaha: properti, hotel, perdagangan, restoran, transportasi, telekomunikasi, perkebunan, dan industri manufaktur. Boleh jadi yang kami jumpai tidak mencerminkan populasi, tetapi setidaknya kami tidak menjumpai seorang pun yang pesimistik memasuki tahun 2014.

Boleh saja Bank Indonesia menekan target pertumbuhan kredit menjadi 15-17 persen untuk tahun 2014, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 23 persen pada bulan September 2013. Sepanjang prospek usahanya bagus, kondisi keuangan perusahaan debiturnya sehat, dan proses penyaluran kreditnya memenuhi ketentuan, perbankan tetap cukup leluasa menyalurkan kredit.

Bukankah jadi aneh kalau investasi domestik diperketat sedangkan investasi asing didorong terus? Pemerintah kian membuka lebar-lebar kehadiran investor asing, bahkan di sektor-sektor yang selama ini dipandang strategis. Bukankah dampak peningkatan investasi terhadap pemburukan akun semasa (current account) berpotensi lebih besar dari investasi asing ketimbang investasi dalam negeri atau domestik?

Pemerintah sepatutnya tidak diskriminatif, bahkan sepatutnya lebih mengedepankan potensi domestik.

Kalau defisit akun semasa jadi momok dan pemerintah sudah sangat sadar penyebab utamanya, lakukanlah segala cara untuk menyelesaikan akar masalahnya. Apa lagi kalau bukan dengan menggenjot ekspor nonmigas dan mereformasi sektor migas. Niscaya bisa, dengan kerja keras dan terbebas dari cengkeraman kelompok-kelompok kepentingan pemburu rente.

Daya gunakan seluruh potensi yang kita miliki untuk menggenjot ekspor nonmigas. Deklarasikan tahun 2014 sebagai tahun diplomasi dagang. Seluruh jajaran Kementerian Luar Negeri berada di jajaran terdepan sebagai ujung tombak perluasan dan pendalaman pasar ekspor. Dukung sepenuhnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) membuka pasar luar negeri. Tugaskan maskapai penerbangan milik negara mengangkut produk-produk UKM dengan potongan harga dan pelayanan lebih baik. Dorong perusahaan perdagangan milik negara menjadi trading house bagi UKM. Tingkatkan anggaran untuk promosi dan bantuan teknis agar produk-produk UKM memenuhi standar internasional.

Banyak UKM dimotori pengusaha dan profesional muda. Kreativitas mereka luar biasa. Brownies kukus merek Amanda, misalnya, telah menembus pasar Asean, bahkan sedang merintis pasar Korea dan Timur Tengah.

Kolaborasi UKM dengan korporasi besar juga sudah menunjukkan hasil membanggakan. Radio transistor “jadul” disulap dengan kemasan industri kreatif bermotif budaya Nusantara. Radio transistor menjelma sebagai hiasan interior di ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang kerja. Juga kolaborasi batik Iwan Tirta dengan pengusaha UKM yang menghasilkan keramik. Dengan mengeksploitasi keunikan kekayaan Nusantara, keramik kita niscaya bisa memiliki tempat di mata konsumen global di tengah dominasi keramik bermotif Tiongkok buatan China yang sudah merupakan tradisi ribuan tahun di negeri tirai bambu itu.

Defisit perdagangan nonmigas terbesar Indonesia adalah dengan China. Mengapa China cuma jadi momok? Mengapa Negara Asean lain menikmati suplus perdagangan dengan China? Saatnya tahun 2014 menjadikan China sebagai target ekspansi ekspor Indonesia. Pasar dengan penduduk 1,3 miliar seharusnya menjadi potensi pasar yang menggiurkan bagi beragam produk Indonesia. Bukan hanya produk tambang dan mineral, tetapi juga berbagai produk manufaktur. China memiliki 23 provinsi dengan karakteristik pasar yang berbeda-beda. Pemerintah perlu membantu pemetaan pasar China untuk memudahkan penetrasi pasar bagi produk-produk ekspor Indonesia.

Semoga pemilihan umum terselenggara dengan lancar dan menghasilkan pemimpin yang sesuai dengan harapan rakyat kebanyakan. Sang pemimpin baru itu yang diharapkan bakal mampu menghimpun potensi yang selama ini berserakan dan merajutnya menjadi kekuatan nyata.

Oleh karena itu, cukup banyak alasan untuk menapaki tahun 2014 dengan penuh optimisme.